Postingan

Menampilkan postingan dengan label Konsumsi

Dorong Konsumsi dan Permintaan Kredit

Gambar
Sumber: .sumeks.co.id./ JPNN JAKARTA – Pemulihan konsumsi masyarakat menjadi penting untuk mendorong kembali pertumbuhan ekonomi. Permintaan kredit yang masih berada dalam titik lemah membuat Bank Indonesia (BI) perlu kembali melonggarkan kebijakan moneter. Bank sentral kemarin (22/9) memangkas suku bunga acuan 25 basis point dari 5,25 persen menjadi 5 persen. Gubernur BI Agus D.W. Martowardojo menyatakan bahwa BI perlu mendorong ekonomi di tengah risiko pelemahan global. ’’Pelonggaran diharapkan dapat memperkuat upaya untuk mendorong permintaan domestik. Langkah ini juga bertujuan menjaga stabilitas makroekonomi,’’ ujarnya di gedung BI, Jakarta, kemarin. Kebijakan penetapan 7-day reverse repo rate sejak bulan lalu mengakibatkan suku bunga deposito turun 100 bps. Namun, suku bunga kredit hanya turun 52 bps. Agus mengakui bahwa permintaan kredit masih relatif lemah. Tetapi, dia menggarisbawahi bahwa kredit dalam rupiah masih tercatat tumbuh. Namun, ada pelemahan yang dipicu tur...

Menanti Investasi Berkualitas Tinggi

Gambar
Oleh Akbar Suwardi ( Ekonom Perbankan )   Meskipun tidak setinggi yang diperkirakan oleh pemerintah dan otoritas sebesar 5,30%, tingkat pertumbuhan ekonomi di kuartal I 2016 yang tercatat sebesar 4,92% sudah bagus. Lebih rendahnya realisasi tingkat pertumbuhan ekonomi daripada yang diperkirakan pemerintah otomatis membuat para investor sedikit kecewa sehingga men- discount beberapa indeks yang sebelumnya tercatat menguat. Alhasil nilai IHSG, nilai tukar, dan harga investasi pada pertengahan Mei sedikit mengalami pelemahan. Pertumbuhan kuartal I 2016 memang lebih rendah bila dibandingkan dengan kuartal IV 2015 (5,04%), namun pertumbuhan tersebut jauh lebih baik dari kuartal I tahun 2015 yang sebesar 4,74%. Disamping itu, dibandingkan dengan negara ASEAN, seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand, pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini masih relatif lebih baik.